Posts Tagged ‘ada’

Belajar Menjadi Entrepreneur dari Kaum Awsan

Menjadi entrepreneur dapat belajar dari siapapun, termasuk dari Kaum Awsan. Kaum Awsan bertempat tinggal dan mendirikan kerajaan di Arabia Selatan (Yaman) dengan ibukota di Hagar Yahirr yang terletak di Wadi Markha, sebelah selatan Wadi Bayhan, yang saat ini dikenal dengan lokasi yang bernama Hagar Asfal.

Kerajaan Awsan merupakan salah satu kerajaan yang paling penting di Arabia Selatan. Kota kerajaan dinacurkan oleh raja dan mukarrib Saba’, Karib’il Watar, menurut catatan kaum Saba’ merupakan laporan kemenangan yang berhubungan dengan pembuktian secara nyata terhadap eksistensi kaum Awsan merupakan rute bisnis yang dilalui oleh kerajaan Minea, Saba’, Qataban dan Hadramaut. Kaum Awsan mengalami kemakmuran karena juga ikut mengendalikan rute bisnis para kafilah dagang yang melintasi Semenanjung Arabia Selatan dan kemudian juga rute laut. Produk bisnis yang bersifat internasional adalah frankincense dan myrrh. Pengembangan kedua produk tersebut dan rempah-rempah serta tanaman lainnya dimungkinkan karena sistem irigasi yang luas yang mengalir dari dam menuju lembah.

Berdasarkan keramik yang ditemukan oleh M. Saad Ayoub pada 1990-an dalam penggalian situs, diketahui kebangkitan kembali kota Hagar Yahirr tersebut diperkirakan akhir abad pertama sebelum masehi sampai awal abad pertama sebelum masehi. Wilayah sekitar 160,000 m² dikelilingi tembok dan dasar bangunannya dibuat dari batu bata merah yang telah ditulisi. Pembudidayaan tanaman bergantung pada irigasi yang mengalir setiap tahun pada musim semi dan musim panas, ketika mengalir menuju wadi, kemudian mengaliri ladang, meninggalkan lumpur tipis yang berasal dari debu yang dibawa angin yang menunjukkan pola kuno dari pemberdayaan parit dan ladang. Ditemukannya radiocarbon pada endapan di sekitar irigasi memberikan petunjuk bahwa irigasi tersebut mengandung air yang berlimpah, sehingga menyebabkan penduduk meninggalkan tempat tersebut, diperkirakan terjadi pada pertengahan abad pertama sebelum masehi. Dengan demikian sampai saat ini situs tersebut tidak pernah dibangun kembali.

Hagar Yahirr merupakan pusat kota yang sangat besar untuk Arabia Selatan, yang dipengaruhi budaya Hellenistik dengan candi dan sebuah bangunan istana yang dikelilingi oleh tempat tinggal yang dibangun dari batu merah dengan sebuah pasar dan sebuah caravanserai yang melayani kafilah yang menggunakan unta. Hellenistik merupakan budaya Yunani yang menyebar pada daerah jajahannya, yang dilakukan penaklukannya oleh Iskandar yang Agung pada abad ke empat sebelum masehi. Menurut Droysen, peradaban Helenistik merupakan gabungan dari peradaban yunani dengan peradaban Timur Dekat (kawasan Iran, Israel, Lebanon, Mesopotamia, Suriah, Turki dan Yordania). Satu dari rajanya pada saat itu hanyalah dibawah pemerintahan Yaman untuk memberikan penghormatan, dalam kehidupannya yang ditunjukkan dalam lukisan patung kecil menggunakan pakaian Yunani, yang berbeda dengan pendahulunya yang menggunakan pakaian gaya Arab dengan rok dan selendang. Ada beberapa prasasti Awsan menggunakan bahasa Qataban.

Lokasi Hagar Yahirr serupa dengan kota kerajaan kecil lainnya, yaitu di mulut lembah atau wadi (sungai yang telah kering). Ma’in di wadi Jawf, Ma’rib di wadi Dana, Timna di wadi Bayhan, Shabwa di wadi Irma dan Hagar Yhirr di wadi Markha. Saat ini wadi Markha merupakan salah satu daerah di Yaman untuk pemberdayaan tawon yang menghasilkan madu. Madu dari Yaman terkenal karena orisinalitas rasa, warna dan aromanya.

Madu bermanfaat dalam nutrisi dan pengobatan, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 68-69 : Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah : “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
sumber : www.msuyanto.com

Sayang, nama kamu masih ada di speed dial hpku…

hari itu 20 Mei 2007
tepatnya jam 7.30 pm…gw bener2 tahu apa itu yang namanya
“you’ll never know wat you’ve got until it’s gone”.

Yup, gw udah kehilangan apa yang selama ini gw punya,

cukup manis buat dikenang
tapi terlalu pahit buat diinget..

Gw ga bisa bayangin lagi, apa jadinya gw sekarang.

Sekarang, detik ini, ga ada lagi yang gw panggil sayang,
ga ada lagi yang gw marahin,
ga ada lagi yang gw bikin cemburu,

semua ga ada lagi.

Yang ada sekarang, cuma satu kata
“teman”,

itu yang dia minta.

Cukup mudah buat dikatain,
tapi terlalu sulit buat gw lakuin…

Mungkin salah gw juga,
gw tau dia kyk angin,
yang ga akan pernah bisa diikat,
apapun itu.
Angin ada bukan untuk seseorang,
angin ada untuk semua,
untuk bebas…

Bukan dengan komitmen…

Cukup bahagia waktu bersama,
tapi terlalu sedih waktu berpisah…

Itulah yang gw alami,
mungkin kalimat “boys don’t cry”
ga akan pernah berlaku buat gw,
karena gw bukan orang yang takut nangis.

Saat ini, detik ini, mungkin gw ga akan nangis lagi.
Tapi di pikiran gw, masih jelas semua tentang dia.

Gimana dia ketawa,
gimana dia manja,
dan semua tingkah laku dia.

Sudahlah, ini sudah berakhir..
Yang ada cuma cerita,
kamu dan aku…..

Dan satu lagi sayang,
tau ga? Nama kamu masih ada di speed dial hpku,
biar aku gampang telepon kamu,
biar aku gampang denger suara kamu,

karena ketika tiba suatu hal tentang kamu,
semua mudah bagiku lakuin.

Tips Menggunakan Lensa Kontak

Selain memerhatikan bahan yang digunakan lensa kontak, ada hal lain yang perlu diperhatikan demi menjaga kesehatan mata.

1. Pilihlah lensa kontak dengan kadar air 50-60 persen.
Jika terlalu tinggi, justru akan cepat menyereap air sehingga mata pun cepat kering.

2. Sebaiknya tidak menggunakan lensa kontak lebih dari 12 jam.
Mata pun perlu beristirahat dan mengambil oksigen kembali, sehingga sebelum tidur sebaiknya lepas terlebih dulu dan ganti dengan kacamata.
3. Hindari berenang dengan menggunakan lensa kontak.
Pasalnya, kandungan kaporit maupun kotoran yang tedapat di air dapat mengontaminasi lensa dan akhirnya mengganggu kenyamanan mata.lensa+kontak Tips Menggunakan Lensa Kontak

4. Tempat penyimpanan lensa kontak pun harus dibilas hingga bersih tiap kali selesai digunakan dan sebaiknya ganti setiap sebulan sekali.
Pasalnya, cairan disinfektan untuk merendam lensa kontak saat tidak digunakan bertujuan untuk melepas lapisan deposit atau protein mata dan kotoran dari lensa kontak. Jika tempat tidak dibilas hingga bersih, deposit dan kotoraan yang mengendap di bagian dasarnya dapat terangkat kembali ketika akan merendam lensa kontak di periode berikutnya.

5. Sebelum menyentuh lensa kontak, cucilah tangan terlebih dulu agar tidak mengontaminasi lensa konta.

Sumber: Inspiratorial Kompas 12 Juni 2008. Picture: www.eyecatchers.com.au

Sahabat????

“Persahabatan ibarat satu janji yang dibuat di dalam hati, tak dapat ditulis, tak dapat dibaca. Namun takkan terpisahkan dengan jarak, takkan berubah oleh massa. Sekali kita kenal selamanya kita adalah kawan….”
Yah, tepat jam 05:41:49 pagi, hpku berdering tanda ada sms yang masuk. Ternyata sms berasal dari Aji, temenku yang dulu kerja di Parsley Jakal dan sekarang ga tahu dimana rimbanya. Sms yang gampang dibaca oleh siapa pun yang enggak buta huruf, tapi penuh makna yang tersimpan di dalamnya. Emang bener banget apa yang tertulis di sms itu, bahwa seorang sahabat akan selalu ada dalam suka dan duka, temen akan silih berganti tapi sahabat sejati akan selalu di hati.
Sejenak aku terdiam dan beberapa kali aku ulang membaca sms itu. Aku mulai teringat dengan si Fandy, Dedi, Rizqi, Wendi, Kiswanti, Erni, Parmi, Nova dan semua temenku waktu aku duduk di bangku SD. Suka duka selama aku menjalani proses ketika aku masih SD selalu kami lewati satu per satu dengan semangat kebersamaan. Sebagai temen Fandy adalah orang pertama yang ajak aku nonton bokep untuk pertama kali, Dedi banyak orang tahu kalau dia adalah sepupuku sekaligus rivalku dalam memperebutkan ringkin Pertama dikelas sampai akhirnya aku yang memenangkan kompetisi itu di hujung kehidupanku di saat SD. Kemudian Wendi yang selalu ngajakin maen nitendo kalau liburan tiba, Rizqi yang aku kenal dia sejak SD dan masih banyak lagi. Banyak kenangan-kenangan indah saat bersama mereka yang ga mungkin cukup ku tuliskan disini. Akhirnya Aku, Rizky dan Dedi setelah lulus dari SD kita lanjutin SMP barengan, aku masih ingat banget ketika Rizqi hampir aja ga ke trima di SMP Favorit yang sekarang udah jadi Sekolah Bertaraf Internasional dan terkenal sebagai sekolah ‘mahal’ di daerahku sejak dulu. Dia nangis yang sejadi-jadinya, tapi alhamdulillah dia masuk ke SMP ku juga akhirnya.
Saat SMP ada Fajar, Rahma, Titik, Ithing, Diana dan aku tentunya yang masih setia menunggui Kelas A dari kelas 1 sampai kelas 3, Di kelas 3 aku dapat temen-temen yang bener baru, ada Dinda (bebek), Sulis, Arbi, Adit, Gilang, Dian, Etri, Oox yang selalu gila di manapun kita berada.  Di SMP itu pula aku mengerti dan tahu apa itu cinta?apa itu cita?dan apa itu bahagia? Karena disanalah cinta pertamaku bersemi. Yah, cinta pertamaku, Dian. Tapi ternyata cinta pertamaku kandas di tengah jalan. Kemudian Riana yang sampai lulus aku malu untuk ngungkapinnya. Hmm, selain akrab dengan temen seangkatan, aku juga akrab dengan adek kelas, ada Senja, Fajar, Tatang yang akhirnya jadilah kehidupanku di SMP di penuhi dengan cerita-cerita indah, lucu, bahagia, sedih dan semua itu ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Yah, akhirnya 3 tahun aku jalani kehidupan di masa SMP akhirnya aku lulus tepat waktu. Di SMP Pula aku belajar yang namanya organisasi. Akhir kehidupanku di SMP di tandai dengan aku nginap di Rumah Senja, kemudian kita makan-makan di Mc D habis lebih dari 300 ribu yang waktu itu buatku uang yang mahal banget karena uang sakuku ga nyampek segitu sebulannya.
“Dok…Dok…Dok…Dok…Dok….”tanda pintu kamarmu udah diketuk ama kakakku karena seperti biasanya aku belum bangun padahal jam udah menunjukkan pukul 06:00 pagi (yah, kebiasaan ku bangun pagi hilang begitu saja sejak aku lulus SMA 2 tahun lalu,hehe).
Aku bergegas untuk bangun dan langsung menuju ke kamar mandi buat cuci muka, yah sekali lagi aku teringat masa-masa SMA dulu, dimana masa itu aku tahu siapa dan bagaimana aku ini. Yah, masa di mana aku bener-bener tahu tentang semua jati diriku. Masa SMA dulu merupakan masa di mana aku bisa menunjukkan kemampuanku dalam banyak hal tapi disisi lain adalah masa di saat aku menyadari dan mengerti dengan keadaan di dalam diriku. Yah, di SMA aku banyak terjun ke ‘dunia politik’  sehinga aku pun pernah memimpin organisasi tertinggi di sekolah. Di sana aku kenal dengan Uswatun yang merupakan rekan dalam mengurus organisasi dan merupakan rival ketika adu argumen, kemudian ada Fika dan Savitri yang selalu di tengah-tengah aku dan uswatun. Fika adalah rekan terbaikku selama aku memimpin OSIS dulu, aku inget banget gimana cara dia melobi Bapak/Ibu Guru, Karyawan untuk bisa ngadain acara yang nyleneh-nyleneh, sampai dia di cap sebagai pembangkang oleh Kepala sekolahku dulu. Yah, di OSIS juga ada Heri dan Didit yang dulu teman akrabku tapi akhirnya jadi rival ‘politik’ yang paling susah dihadapi. Di luar organisasi ada Mery si bencong yang PD nya setengah mati, kemudian ada Trio Jonet yang merupakan temenku paling kece. Banyak yang naksir dia. Di SMA pula aku kenal banyak temen dari Aceh, Lampung, Bandung, Makassar, Pontianak, Padang, Manado dari banyak etnis dan saat itu pula aku mendapat pacar anak Lampung (salam buat Astrina Eka Putri). Yah, sampai akhirnya 3 tahun begitu cepat, aku ingat bagaimana kami dulu di gembleng, ditempa untuk menjadi yang lebih lagi. Aku masih ingat ketika awal aku masuk SMA, aku ingat kepala plontos kami dengan dada telanjang terlihat di BRIMOB Gondowulung. Aku ingat ketika kami makan harus selalu ditemani dengan keringat dan ‘tetesan air mata’. Aku ingat ketika kami merantau di negeri seberang, negri dimana Gajah menjadi simbolnya, kita habiskan waktu dengan pantat di kereta besi. Aku ingat ketika kami makan siang di pinggir jembatan yang hampir roboh, aku ingat ketika aku mau ulangan susulan Fisika yang tiba-tiba ada gempa dan nilai fisikaku dapet 35 di raport, aku ingat ketika aku mengkoordinir untuk mendirikan dapur umum ketika gempa dulu. Yah, semua itu tak seberapa di banding pengalaman yang bener-bener aku dapatkan selama SMA dulu.
Akirnya di pertengahan tahun 2007 aku berhasil lulus dari SMA. Aku di wisuda di Gedung Pertemuan Ganesha APMD Jl. Timoho Yogyakarta oleh Kepala Sekolahku Dra. Hj. Surajiyah, MM dan didampingi oleh Ibu Kepala Pusdiklat Industri Departemen Perindustrian RI. Akhirnya setelah lulus, aku mencari kerja dan akhirnya aku ketrima di UD Reka yasa, di bagian Adm. Gudang. Perusahaan itu bergerak dibidang Pembuatan alat-alat tepat guna. Aku kerja disana Cuma 15 hari, dan aku adalah orang ke 4 yang mengundurkn diri dengan tiba-tiba.
Mulai bulan September 2007 aku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di  Yogyakarta, disana aku kenal dengan Ida, Endah, Ihsan, Yohan, Henny Eko, Benny, Evi, Erna, Nila, Afri dan masih banyak lagi. Suka duka selama kuliah kita rasakan bersama. Mulai markipat demi sebuah beasiswa kita berjuang bersama-sama tanpa kenal lelah, pagi siang sore malam kita berjuang bersama-sama. Saat ini aku telah sampai semester 4, tinggal beberapa langkah lagi aku selesai. Jadi aku akan berusaha dengan sekuat tenagaku.
‘What???????aku tersadar dan melihat jam yang ada di handphoneku, ternyata waktu udah menunjukkan pukul 06:33, ‘wew, aku telat….!!!!!!!!!!!!!!!’buru-buru aku ambil air buat mandi, lalu aku mandi bebek, ga nyampek 5 menit, akhirnya aku telat. Seperti biasanya ketika kuliah masuk jam 07.00 WIB udah bias dipastikan aku sedikit telat, hehe…’
Hmm, emank keberuntungan selalu ditanganku. Dosenku pagi itu juga telat, jadi aku masih bias tetep masuk kelas walaupun udah telat udah lebih dari 15 menit. HUuff, lagi aku dikelas melamun…
Sesekali aku pandangi wajah temen-temenku di kelas, dengan sedikit senyum manis aku lemparkan ke mereka dan mungkin dari mereka ada yang merasa kalau aku lagi kurang minum obat tadi, hehehe…
Selain itu setiap semester kita wajib mengumpulkan sertifikat-sertifikat yang lumayan banyak setiap semesternya. Tapi alhamdullillah, sampai semester 4 ini pun aku masih mampu memenuhi persyaratan-persyaratan yang ada. Huff. Kuliah pagi ini terasa lama banget, mungkin karena dosennya udah agak tua jadi kurang asek, ga kayak mas David si dosen muda yang ketemu aku pas chatting di mirc pagi-pagi banget, hehehe….Yah, sejak aku kenal duniaku saat ini aku sering bgt chatting di mirc..hehehe…
Duniaku, itu adalah sebutan buat apa yang aku kerjakan setiap hari, tentang gaya hidupku, tentang cara berfikirku dan semua hal yang tentang aku. Duniaku, aku temuin ketika aku naik kelas 3 SMA beberapa tahun yang lalu. Hmm, dunia yang membuat aku banyak mengenal orang-orang dari berbagai daerah, dari berbagai universitas, dari semua kalangan dan kebanyakan kalangan orang-orang menengah ke atas. Hal ini dapat dilihat dari penguasaan teknologi informasi yang sangat baik. Dari duniaku itu, diawal aku memasukinya aku kenal yang namanya Kevin, tapi dia bukan orang yang aku kenal melainkan si Adi anak aku kenal.Kemudia si Tommy anak Wirobrajan yang kosnya di deket RS Ludira Husada yang ngakunya asli daerah Sumatra Utara. Terus ada si Adit yang dulu anak Boda dan sekarang kuliah di Bandung, kemudian ada si Dicky anak asli Jakarta yang kuliah di Ukrim Jasol. Hmm, namanya di dunia, pasti semua ga ada yang kekal, begitu juga kami, aku ama temen-temenku. Mereka silih berganti datang dan pergi, lepas dari mereka-mereka aku kenal ama banyak temen yang laen, ada mas Dendy anak KU UGM yang sekarang udah Koas. Kemudian ada si mas Doni anak Instiper yang kos daerah maguwo, ada Bara yang alhamdullillah sekarang udah bisa insyaf, hehe..kemudian ada Rendra yang selalu sama si Galih, kemudian ada si Vandy yang sering ngebetein, kayaknya sekarang dia udah mau lulus tuh. Hmm, si amar yang 1 kampuz ama vandy, kemudian si anton si anak amikom yang ga bisa install computer, hehe…si Badrus yang sukanya kerja di nite club. Akhir-akhir ini aku jarang banget ketemu ama mereka.

Hubungan Antara Pancasila dan UUD 1945

Pak Rizal terkenal sebagai guru yang galak. Suatu hari beliau mengajak diskusi dengan melempar pertanyaan, “Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD45?”

Karena mungkin kelas tegang, tak ada seorang muridpun yang mau mulai memberi komentar atau menjawab.

Selang beberapa menit kelas masih diam, pak Rizal menunjuk Abong.

“Bong! Bagaimana hubungan Pancasila dengan UUD 45?”

Dengan tegas Abong menjawab, “Baik-baik aja, Pak!”

sumber : www.ketawa.com

Renungan Untuk Yang Mencari Pasangan Hidup

Mungkin ada yang menganggap terlalu naif dan hanya ada di dalam cerita
aja. Apapun itu, kadang memang harus pinggirkan hal duniawi dan
kembali ke dasar kita.
____________ _________ _________ _________ _
Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengarungi bahtera rumah tangga..

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama.. Kenapa kamu memilih dia sebagai
suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ).

Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.

Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.

Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami..

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.

Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya
menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama
proses pernikahan.

Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.. Asli..

Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya).

Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.

Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.

Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia
juga ingin bercerita banyak pada saya.

Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.

“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”

“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.

Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.

Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.

“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya.

Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……untuk menjadi istri
saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.

Saat ini saya punya pekerjaan.

Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan
ngontrak selamannya.

Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya.. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja..

Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena
saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik. Kenapa saya memilih anda ?

Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda.

Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.

Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.

Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.

Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.

Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D .

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia..”

“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.

Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”

“Maksudnya?”

“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel.

“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.

Sunyi.. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

“Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.

“Gik…”

“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya.. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.

Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa
ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.

Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi
sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.

Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.

Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.

Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan.

Kita hanya bisa
memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan
kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta ?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.

Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo),

kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.

forward from: Desi Apriani

yogie al-fakir

Cinta Itu……

Kubetulkan letak kacamataku, lalu kututup buku yang sedari tadi kubaca, kuedarkan pandangan ke tengah lapangan basket, tempat anak-anak yang lain berkumpul.
Kuhembuskan napas, bosan. Terdengar riuh sorakan dari tepi lapangan. Tak ada kerjaan, pikirku melihat cewek-cewek menyoraki cowok-cowok pemain basket.
Taman sekolah merupakan tempat kesayanganku untuk menghabiskan waktu saat di sekolah sedang tidak terjadi kegiatan belajar mengajar.
Ini hari Selasa, lewat dua hari dari terakhir para murid di sekolah ini mengikuti test. Dan seperti biasa, selama seminggu ini, lomba antar kelas digelar sampai Sabtu nanti pembagian rapor.
Kulirik sepasang teman yang mojok dekat perpustakaan. Asyik sekali berbincang, dengan sesekali diiringi tawa. Itukah yang namanya pacaran? Menumpahkan rasa cinta pada lawan jenis. Berjalan bersama, bergandengan tangan, berbicara berdua, kemana-mana pun selalu berdua.
Apa itu cinta? Tanyaku pada diriku sendiri. Cinta adalah awal dari kesedihan, jawabku.
“Dor !”
Terkejut aku mendengarnya. Vivi yang baru saja mengejutkanku tertawa.
“Sendirian terus kerjaannya,” ledeknya.
“Sudah selesai?” tanyaku padanya begitu kulihat gerombolan anak yang tadinya memadati lapangan basket itu mulai bergerak meninggalkan lapangan.
“He-eh!” Vivi mengangguk.
“Kamu enggak setia kawan. Masa kelasnya bertanding, kamunya enggak kasih dukungan!”
“Tapi aku ngasih dukungan doa,” elakku dari tuduhannya
Dia manyun, lalu seperti teringat sesuatu dia memandangku.
“Dapat salam dari Bagas,” katanya.
Aku bisa merasakan raut wajahku berubah setelah mendengar ucapan itu.
“Waktu dia bertanding tadi, dia cari kamu, An. Coba tadi kamu ikut ngedukung, pasti dia tambah semangat main untuk kelas kita.”
“Memangnya kelas kita kalah?”
“Ya menang dong! Kalau kalah, pastinya aku deketin kamu dengan wajah lesu.”
Aku tertawa.
“Sepertinya Bagas suka kamu,” dia memberi tahu.
“Sudah jangan ngomongin itu lagi, Vi!”
“Kamu ini aneh, An. Biasanya nih, seorang cewek pasti akan senang sekali tahu ada cowok suka pada dirinya. Apalagi ini Bagas, si bintang lapangan basket.”
Dia benar. Harusnya aku bahagia mendengar ada orang menyukaiku. Tapi perasaan seperti itu, yang dulu juga pernah ada dalam hatiku sudah hilang. Dicuri waktu.
“Aku mau nerusin baca buku, jangan kamu ganggu,” pintaku padanya.
“Iya deh. Ake pergi dulu ya, mau lihat pertandingan kelas lain.” Dia pamit padaku, lalu melesat cepat bersama teman yang lain.
Kulanjutkan kegiatanku sebelum dia datang, baca buku. Tapi sepertinya, ketenangan yang kudapat tadi sudah dicemari perkataannya tentang rasa suka. Aku jadi melamun, memandang kosong tanaman bunga merah jambu di depanku.
Cinta membuat orang bahagia. Benarkah itu? Bila telah dua kali aku harus menangis karena cinta.
Bukan sepenuhnya salah cinta, jika aku perlu menelan kecewa. Hanya saja cinta-lah yang membatku bersedih. Karena aku tidak memiliki perasaan itu pada orang lain, tentunya aku tidak perlu memendam kerinduan yang menyiksa.
Perasaan itu sangat menyakitkan. Berharap suatu waktu orang yang kita cintai menghampiri kita, menyatakan rasa cintanya dan membuat kita tersanjung. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Orang itu memberikan cintanya pada orang lain. Padahal kita sudah bermimpi setinggi awan.
Aku ingat pengalamanku sendiri saat seorang temanku seperti Vivi menyampaikan salam dari seorang cowok. Aku begitu antusias menyambutnya. Aku jadi memperhatikan setiap gerak-gerik cowok itu. Apa saja kegiatannya, aku tahu.
Seringkali aku mengkhayal, dia benar-benar menembakku dan kami pun berpacaran. Sampai-sampai aku bermimpi hal itu terjadi. Kenyataannya? Kudengar berita dia telah jadian dengan orang lain.
Lalu, untuk apa semua perhatian yang mati-matian aku berikan padanya. Kupupuk rasa suka sedikit demi sedikit, nyatanya setelah rasa cinta terwujud, dia meninggalkanku.
Kemudian aku berusaha menghapus cinta yang tercipta dengan mulai meyukai orang lain. Kulupakan dirinya dengan melampiaskan perasaan sukaku pada orang lain.
Kembali kuulang mimpi-mimpi. Memulai dari awal mengharapkan cinta. Kuagungkan cintaku pada orang ini. Mungkin salahku juga kalau akhirnya orang inipun pacaran dengan cewek lain.
Kesalahan terbesarku adalah kaarena tidak berusaha menunjukkan perasaanku. Tapi apa iya, seorang cewek menunjukkan perasaannya terlebih dulu?
Yang pasti, sejak saat itu aku berjanji tidak akan lagi berusaha mencintai seseorang. Takut kecewa. Takut terluka. Takut menangis sendirian lagi.
Aku cukup senang dengan suasana hatiku saat ini. Tidak perlu lagi merasa was-was mendapati kenyataan yang tidak eindah harapan. Sebab aku tidak akan bermimpi lagi untuk itu.

***

Aku menoleh melihat ke pintu kelasku, kudapati Bagas bersandar di sana yang kuyakini dia sedang menatapku. Bagas tersenyum dan kubalas dengan senyum. Aku tidak mau dianggap sombong. Rupanya senyumanku membuatnya merasa tidak perlu sungkan, sehingga dia mulai menghampiriku.
Masih bisa kulihat bekas keringat yang menempel di tubuhnya. Pastinya baru mengganti baju olahraga dengan seragam.
“Baca apaan?” tanyanya.
“Buku sejarah mitologi Yunani. Capek?” ganti aku bertanya.
“Sedikit,” katanya
“Aku mau mengembalikan buku ini ke perpustakaan. Aku tinggal dulu ya!”
Kutinggalkan dia.
Sebenarnya aku belum selesai membacanya. Aku cuma pura-pura, untuk menghindarinya. Ketakutan akan datangnya cinta menderaku. Aku tahu, jika aku berdekatan dengannya, rasa cinta akan muncul. Dan aku tidak mau kecewa itu datang lagi.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan menutup pintu hatiku sampai saatnya tiba nanti. Saat takdir benar-benar mempertemukan pasangan hidupku. Terlalu jauh ya pikiranku?
Terserah akan ada komentar apa, yang pasti saat ini itulah pemikiranku tentang cinta. Cinta adalah awal dari kesedihan.

***

Pertandingan final basket antar kelas, satu dari dua tim itu adalah kelasku. Vivi sudah menggandeng tanganku terus sampai di lapangan basket, dan tetap memegangnya seakan takut pergi.
“Kamu harus ikut mendukung kelas kita,” kata Vivi tegas.
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk seperti anak kecil.
“Bagas pasti akan tambah semangat melihat kamu menontonnya, An”
“Aku pergi nih, kalau kamu bicara soal itu,” ancamku.
“Enggak lagi deh!”
Pertandingan dimulaidan aku bisa melihat Bagas tersenyum padaku.
Sebisa mungkin kunikmati pertandingan ini. Ikut bertepuk tangan, memberi semangat.
Kelas kami menjadi juara membuat kami bersorak-sorak kegirangan. Aku langsung mulai melangkah untuk meninggalkan lapangan.
“Anna!” Bagas mengejar langkahku.
Tubuhnya dipenuhi peluh dan dia tersenyum begitu kami berhadapan.
“Kutunggu di Banaran pulang sekolah nanti,” sebutnya pada cafe yang biasanya menjadi tongkrongan anak-anak sepulang sekolah.
Begitu saja, lalu dia pergi dari hadapanku, setengah berlari menghampiri teman-temannya yang ikut pertandingan tadi.
Kupandangi punggungnya dan balik kacamataku. Perasaanku datar. Syukurlah! Aku tidak mau ada yang lain di hatiku.
Mulanya aku ragu untuk memenuhi ajakannya. Tapi saat sudah kupijakkan kaki di Banaran, aku jadi lebih mantap untuk bertekat menemuinya.
Ada hal harus kita tahu. Aku telah mengetahui bagaimana rasanya terhempas dari mimpi, maka aku tidak ingin melukai hati orang lain. Paling tidak dengan pergi menemuinya bisa membuatnya lega.
Aku duduk di hadapannya.
“Mau pesan apa?” tanyanya.
“Apa saja,” jawabku asal.
“Jus jeruk saja ya? Kamu suka kan?” Dia menyebut minuman kesukaanku. Membuat aku sadar dia telah memperhatikanku.
Dia mulai bicara soal pelajaran, guru-guru, dan apa saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Kutanggapi dengan sikap biasa, sama kalau sedan ngobrol dengan teman-teman. Hingga akhirnya di mengutarakan perasaannya.
“Aku suka kamu, Anna.”
“Jangan lanjutkan perasaanmu itu,” kataku menanggapinya.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kamu kecewa,” kataku singkat.
“Aku tidak akan kecewa. Aku menyukaimu dan saat ini aku merasakan indahnya cinta.”
“Cinta itu kesedihan. Jangan memulainya kalau kamu tidak ingin terluka. Bunuhlah cinta itu secepat mungkin, sebelum terlalu besar.”
“Tapi aku sudah menyukaimu sejak dulu dan cintaku telah tumbuh.”
“Buang sekarang sebelum lebih besar.”
“Aku tidak akan membuangnya begitu saja. Sekalipun misalnya cinta ini tidak terjalin, aku akan tetap menyimpannya. Kukenang perasaan itu, perasaan indah yang bisa membuatku bahagia.” Jelasnya.
Kuangkat mukaku, menatapnya.
“Kita berbeda dalam memandang cinta, itu artinya kita tidak akan cocok,”kataku dengan pasti.
“Bukankah perbedaan telah berhasil membuat dunia ini jadi lebih berwarna?”
“Terserah kamu saja. Asalkan jangan pernah menyesal memendam perasaan itu sendirian.”
“Aku akan menunggumu sampai kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan, Ann.”
Aneh. Mengapa aku bisa tertawa dengannya. Mendengar kata-katanya membuat suasana lain di hatiku.
“Aku tidak akan mencoba menyukaimu, Bagas.”
“Karena kamu takut? Takut kalau sudah melupakan cintaku ini, ketika kamu telah menyukaiku. Aku akan menjaga cinta ini, Anna. Sampai nanti kamu telah memiliki orang lain baru kusimpan dan kututup rapat cinta ini di hati.”
Entah kenapa, aku jadi menatapnya dan mencari kesungguhan di matanya.
“Aku mau pulang,”kataku yang pasti mengejutkannya.
Kupikir dia akan menahanku, tapi aku salah. Bagas tersenyum lalu berdiri.
“Oke! Aku antar,” katanya. Sekarang gantian aku yang terkejut oleh sikapnya.
Saat dia berjalan di sampingku, aku bisa merasakan degup jantungku. Aku jadi bisa merasakan bahwa aku sudah mulai menyukainya.
“Kamu sudah menyukaiku bukan? Tanyanya dengan senyum.
Lalu aku membalasnya dengan senyum.
Apakah ini awal dari perjalanan cintaku? Haruskah kuakui bahwa aku mulai dilanda cinta? Dan haruskah kuakui, cinta membuatku merasa bahagia? Cinta itu indah.

SMS…..

Sampaikanlah pesan ini kepada 9 orang teman yang kamu anggap goblok : Tenanglah, saya juga barusan menerima pesan ini.
Klo ada yang bilang lu jelek, sabar aja. Klo ada yang bilang lu bego, Cuekin aja. Klo ada yang bilang lu dungu, Cool aja. Tapi klo ada yang bilang lu cakep, Tampar aja, coz itu FITNAH!!
Para Dokter telah meneliti lebih dari 10 tahun dan akhirnya mereka temuka sensasi bahwa orang2 lesbi n homo slalu baca sms dengan jempol. MAAF ANDA SUDAH TELAT MENGGANTI JARI.
Aku minta Tuhan sebuah batu, Dia memberiki Permata. Aku minta pohon, Dia member hutan. Aku minta monyet. Oh God…!!! Dia member nomormu.
25T :
Tadi Tante Tuti Tari Tarik Totong Tukang Tahu Terus Tukang Tahu Tekan Tekan Te**k Tante Tuti Teriak Teriak Terus Terus Terus…..

Sampaikanlah pesan ini kepada 9 orang teman yang kamu anggap goblok : Tenanglah, saya juga barusan menerima pesan ini.

Klo ada yang bilang lu jelek, sabar aja. Klo ada yang bilang lu bego, Cuekin aja. Klo ada yang bilang lu dungu, Cool aja. Tapi klo ada yang bilang lu cakep, Tampar aja, coz itu FITNAH!!

Para Dokter telah meneliti lebih dari 10 tahun dan akhirnya mereka temuka sensasi bahwa orang2 lesbi n homo slalu baca sms dengan jempol. MAAF ANDA SUDAH TELAT MENGGANTI JARI.

Aku minta Tuhan sebuah batu, Dia memberiki Permata. Aku minta pohon, Dia member hutan. Aku minta monyet. Oh God…!!! Dia member nomormu.

25T :

Tadi Tante Tuti Tari Tarik Totong Tukang Tahu Terus Tukang Tahu Tekan Tekan Te**k Tante Tuti Teriak Teriak Terus Terus Terus…..

Tidak Ada Judul…..

Disebuah Perguruan Tinggi Swasta seorang professor berceramah mengenai pendidikan seks kepada para mahasiswanya suatu ketika dia bertanya kepada mehasiswanya tentang posisi seksual yang kalian ketahui.
Seorang mahasiswa menjawab, “dua belas”.
Tiba-tiba seorang mahasiswa dibelakang nyeletuk, ada seratus!
Professor menunjuk seorang lelaki gemuk “menurut kamu ada berapa”?
Mahasiswa gemuk menjawab “empat”
Mahasiswa belakang nyeletuk lagi sekarang ada “seratus satu”.
Professor menunjuk seorang mahasiswi yang tampak malu
“menurutmu ada berapa” dengan tersipu malu dia menjawab “satu pak”
Posisi apa Tanya professor lagi dengan muka merah si mahasiswi menjawab “lelaki di atas perempuan di bawah”
Mahasiswa di belakang nyeletuk lagi “sekarang seratus satu”

Disebuah Perguruan Tinggi Swasta seorang professor berceramah mengenai pendidikan seks kepada para mahasiswanya suatu ketika dia bertanya kepada mehasiswanya tentang posisi seksual yang kalian ketahui.

Seorang mahasiswa menjawab, “dua belas”.

Tiba-tiba seorang mahasiswa dibelakang nyeletuk, ada seratus!

Professor menunjuk seorang lelaki gemuk “menurut kamu ada berapa”?

Mahasiswa gemuk menjawab “empat”

Mahasiswa belakang nyeletuk lagi sekarang ada “seratus satu”.

Professor menunjuk seorang mahasiswi yang tampak malu

“menurutmu ada berapa” dengan tersipu malu dia menjawab “satu pak”

Posisi apa Tanya professor lagi dengan muka merah si mahasiswi menjawab “lelaki di atas perempuan di bawah”

Mahasiswa di belakang nyeletuk lagi “sekarang seratus satu”