Posts Tagged ‘Dia’
Ketentraman Jiwa Entrepreneur
Untuk mencapai jiwa yang tenteram bagi seorang Entrepreneur adalah dengan banyak mengingat Allah. Orang yang beriman kepada Allah, mencintai Allah, takut kepada Allah, terpaut dengan Allah, maka orang tersebut akan banyak mengingat Allah dalam hatinya. Baik mengingat Allah dengan lisan maupun anggota badannya. Hal itu didorong oleh rasa cinta, berharap, bersandar dan bergantung kepada Allah. Mengingat Allah dengan lisan dengan bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, beristigfar dan berdoa. Mengingat Allah dengan anggota badannya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibnu Abbas dalam menafsirkan mengingat Allah, yaitu : jangan lepas mengingat Allah, baik di waktu malam dan siang, di daratan atau di lautan, di saat bepergian atau di rumah, dalam keadaan kaya atau miskin, waktu badan sehat atau sakit dan dalam keadaan sunyi atau banyak orang.
Orang yang mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat akan ditambah oleh Allah karunia dan rezkinya tanpa batas, seperti disebutkan dalam surat An Nuur ayat 37-38 : Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula (oleh) jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan itu) supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Demikian pula dengan mengingat Allah akan menjadikan kita lebih baik. Dalam surat Al Jumu’ah ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian itu lebih baik bagimu jika mengetahui.
Orang yang mengingat Allah juga hatinya menjadi tenteram. Seperti dalam surat Ar Ra’du ayat 28 :..(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Mengingat Allah ada permulaannya dan ada pula akhirnya. Permulaannya ketentraman dan kecintaan dan akhirnya ketentraman dan kecintaan yang dapat menjelma dan timbul dari orang yang mengingat Allah tersebut.
Demikian pula orang yang mengingat Allah, akan diingat oleh Allah, disebut oleh Allah dan bersama Allah. Jika Allah telah mengingat seorang hamba, maka hal itu merupakan bimbingan dan petunjuk untuk meraih awal kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Dalam hadits qudsi, Rasulullah s.a.w. bersabda : Allah s.w.t. berfirman : Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku berjalan, niscaya Aku akan datang kepadanya berlari-lari kecil (Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya dengan lupa mengingat Allah, kita akan termasuk orang yang rugi. Allah berfirman dalam surat Al Munaafiquun ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
sumber : www.msuyanto.com
Ketentraman Jiwa Entrepreneur
Untuk mencapai jiwa yang tenteram bagi seorang Entrepreneur adalah dengan banyak mengingat Allah. Orang yang beriman kepada Allah, mencintai Allah, takut kepada Allah, terpaut dengan Allah, maka orang tersebut akan banyak mengingat Allah dalam hatinya. Baik mengingat Allah dengan lisan maupun anggota badannya. Hal itu didorong oleh rasa cinta, berharap, bersandar dan bergantung kepada Allah. Mengingat Allah dengan lisan dengan bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, beristigfar dan berdoa. Mengingat Allah dengan anggota badannya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibnu Abbas dalam menafsirkan mengingat Allah, yaitu : jangan lepas mengingat Allah, baik di waktu malam dan siang, di daratan atau di lautan, di saat bepergian atau di rumah, dalam keadaan kaya atau miskin, waktu badan sehat atau sakit dan dalam keadaan sunyi atau banyak orang.
Orang yang mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat akan ditambah oleh Allah karunia dan rezkinya tanpa batas, seperti disebutkan dalam surat An Nuur ayat 37-38 : Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula (oleh) jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan itu) supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Demikian pula dengan mengingat Allah akan menjadikan kita lebih baik. Dalam surat Al Jumu’ah ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian itu lebih baik bagimu jika mengetahui.
Orang yang mengingat Allah juga hatinya menjadi tenteram. Seperti dalam surat Ar Ra’du ayat 28 :..(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Mengingat Allah ada permulaannya dan ada pula akhirnya. Permulaannya ketentraman dan kecintaan dan akhirnya ketentraman dan kecintaan yang dapat menjelma dan timbul dari orang yang mengingat Allah tersebut.
Demikian pula orang yang mengingat Allah, akan diingat oleh Allah, disebut oleh Allah dan bersama Allah. Jika Allah telah mengingat seorang hamba, maka hal itu merupakan bimbingan dan petunjuk untuk meraih awal kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Dalam hadits qudsi, Rasulullah s.a.w. bersabda : Allah s.w.t. berfirman : Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku berjalan, niscaya Aku akan datang kepadanya berlari-lari kecil (Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya dengan lupa mengingat Allah, kita akan termasuk orang yang rugi. Allah berfirman dalam surat Al Munaafiquun ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Sayang, nama kamu masih ada di speed dial hpku…
hari itu 20 Mei 2007
tepatnya jam 7.30 pm…gw bener2 tahu apa itu yang namanya
“you’ll never know wat you’ve got until it’s gone”.
Yup, gw udah kehilangan apa yang selama ini gw punya,
cukup manis buat dikenang
tapi terlalu pahit buat diinget..
Gw ga bisa bayangin lagi, apa jadinya gw sekarang.
Sekarang, detik ini, ga ada lagi yang gw panggil sayang,
ga ada lagi yang gw marahin,
ga ada lagi yang gw bikin cemburu,
semua ga ada lagi.
Yang ada sekarang, cuma satu kata
“teman”,
itu yang dia minta.
Cukup mudah buat dikatain,
tapi terlalu sulit buat gw lakuin…
Mungkin salah gw juga,
gw tau dia kyk angin,
yang ga akan pernah bisa diikat,
apapun itu.
Angin ada bukan untuk seseorang,
angin ada untuk semua,
untuk bebas…
Bukan dengan komitmen…
Cukup bahagia waktu bersama,
tapi terlalu sedih waktu berpisah…
Itulah yang gw alami,
mungkin kalimat “boys don’t cry”
ga akan pernah berlaku buat gw,
karena gw bukan orang yang takut nangis.
Saat ini, detik ini, mungkin gw ga akan nangis lagi.
Tapi di pikiran gw, masih jelas semua tentang dia.
Gimana dia ketawa,
gimana dia manja,
dan semua tingkah laku dia.
Sudahlah, ini sudah berakhir..
Yang ada cuma cerita,
kamu dan aku…..
Dan satu lagi sayang,
tau ga? Nama kamu masih ada di speed dial hpku,
biar aku gampang telepon kamu,
biar aku gampang denger suara kamu,
karena ketika tiba suatu hal tentang kamu,
semua mudah bagiku lakuin.
Renungan Untuk Yang Mencari Pasangan Hidup
Mungkin ada yang menganggap terlalu naif dan hanya ada di dalam cerita
aja. Apapun itu, kadang memang harus pinggirkan hal duniawi dan
kembali ke dasar kita.
____________ _________ _________ _________ _
Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengarungi bahtera rumah tangga..
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama.. Kenapa kamu memilih dia sebagai
suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir
manusiawi lah
).
Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya.
Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.
Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.
Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami..
Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.
Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya
menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama
proses pernikahan.
Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.. Asli..
Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya).
Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.
Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.
Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.
Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia
juga ingin bercerita banyak pada saya.
Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.
Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.
Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.
Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya.
Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.
Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……untuk menjadi istri
saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.
Saat ini saya punya pekerjaan.
Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak.
Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan
ngontrak selamannya.
Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya.. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja..
Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.
Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena
saya tidak tahu suratan jodoh saya.
Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik. Kenapa saya memilih anda ?
Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda.
Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.
Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.
Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.
Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.
Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.
Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya
.
Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia..”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.
Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel.
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.
Sunyi.. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.
“Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya.. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.
Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa
ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak.
Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi
sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.
Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.
Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama.
Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya.
Maka semua menjadi indah.
Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan.
Kita hanya bisa
memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan
kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta ?
Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.
Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo),
kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.
forward from: Desi Apriani
yogie al-fakir
Cinta Itu……
Kubetulkan letak kacamataku, lalu kututup buku yang sedari tadi kubaca, kuedarkan pandangan ke tengah lapangan basket, tempat anak-anak yang lain berkumpul.
Kuhembuskan napas, bosan. Terdengar riuh sorakan dari tepi lapangan. Tak ada kerjaan, pikirku melihat cewek-cewek menyoraki cowok-cowok pemain basket.
Taman sekolah merupakan tempat kesayanganku untuk menghabiskan waktu saat di sekolah sedang tidak terjadi kegiatan belajar mengajar.
Ini hari Selasa, lewat dua hari dari terakhir para murid di sekolah ini mengikuti test. Dan seperti biasa, selama seminggu ini, lomba antar kelas digelar sampai Sabtu nanti pembagian rapor.
Kulirik sepasang teman yang mojok dekat perpustakaan. Asyik sekali berbincang, dengan sesekali diiringi tawa. Itukah yang namanya pacaran? Menumpahkan rasa cinta pada lawan jenis. Berjalan bersama, bergandengan tangan, berbicara berdua, kemana-mana pun selalu berdua.
Apa itu cinta? Tanyaku pada diriku sendiri. Cinta adalah awal dari kesedihan, jawabku.
“Dor !”
Terkejut aku mendengarnya. Vivi yang baru saja mengejutkanku tertawa.
“Sendirian terus kerjaannya,” ledeknya.
“Sudah selesai?” tanyaku padanya begitu kulihat gerombolan anak yang tadinya memadati lapangan basket itu mulai bergerak meninggalkan lapangan.
“He-eh!” Vivi mengangguk.
“Kamu enggak setia kawan. Masa kelasnya bertanding, kamunya enggak kasih dukungan!”
“Tapi aku ngasih dukungan doa,” elakku dari tuduhannya
Dia manyun, lalu seperti teringat sesuatu dia memandangku.
“Dapat salam dari Bagas,” katanya.
Aku bisa merasakan raut wajahku berubah setelah mendengar ucapan itu.
“Waktu dia bertanding tadi, dia cari kamu, An. Coba tadi kamu ikut ngedukung, pasti dia tambah semangat main untuk kelas kita.”
“Memangnya kelas kita kalah?”
“Ya menang dong! Kalau kalah, pastinya aku deketin kamu dengan wajah lesu.”
Aku tertawa.
“Sepertinya Bagas suka kamu,” dia memberi tahu.
“Sudah jangan ngomongin itu lagi, Vi!”
“Kamu ini aneh, An. Biasanya nih, seorang cewek pasti akan senang sekali tahu ada cowok suka pada dirinya. Apalagi ini Bagas, si bintang lapangan basket.”
Dia benar. Harusnya aku bahagia mendengar ada orang menyukaiku. Tapi perasaan seperti itu, yang dulu juga pernah ada dalam hatiku sudah hilang. Dicuri waktu.
“Aku mau nerusin baca buku, jangan kamu ganggu,” pintaku padanya.
“Iya deh. Ake pergi dulu ya, mau lihat pertandingan kelas lain.” Dia pamit padaku, lalu melesat cepat bersama teman yang lain.
Kulanjutkan kegiatanku sebelum dia datang, baca buku. Tapi sepertinya, ketenangan yang kudapat tadi sudah dicemari perkataannya tentang rasa suka. Aku jadi melamun, memandang kosong tanaman bunga merah jambu di depanku.
Cinta membuat orang bahagia. Benarkah itu? Bila telah dua kali aku harus menangis karena cinta.
Bukan sepenuhnya salah cinta, jika aku perlu menelan kecewa. Hanya saja cinta-lah yang membatku bersedih. Karena aku tidak memiliki perasaan itu pada orang lain, tentunya aku tidak perlu memendam kerinduan yang menyiksa.
Perasaan itu sangat menyakitkan. Berharap suatu waktu orang yang kita cintai menghampiri kita, menyatakan rasa cintanya dan membuat kita tersanjung. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Orang itu memberikan cintanya pada orang lain. Padahal kita sudah bermimpi setinggi awan.
Aku ingat pengalamanku sendiri saat seorang temanku seperti Vivi menyampaikan salam dari seorang cowok. Aku begitu antusias menyambutnya. Aku jadi memperhatikan setiap gerak-gerik cowok itu. Apa saja kegiatannya, aku tahu.
Seringkali aku mengkhayal, dia benar-benar menembakku dan kami pun berpacaran. Sampai-sampai aku bermimpi hal itu terjadi. Kenyataannya? Kudengar berita dia telah jadian dengan orang lain.
Lalu, untuk apa semua perhatian yang mati-matian aku berikan padanya. Kupupuk rasa suka sedikit demi sedikit, nyatanya setelah rasa cinta terwujud, dia meninggalkanku.
Kemudian aku berusaha menghapus cinta yang tercipta dengan mulai meyukai orang lain. Kulupakan dirinya dengan melampiaskan perasaan sukaku pada orang lain.
Kembali kuulang mimpi-mimpi. Memulai dari awal mengharapkan cinta. Kuagungkan cintaku pada orang ini. Mungkin salahku juga kalau akhirnya orang inipun pacaran dengan cewek lain.
Kesalahan terbesarku adalah kaarena tidak berusaha menunjukkan perasaanku. Tapi apa iya, seorang cewek menunjukkan perasaannya terlebih dulu?
Yang pasti, sejak saat itu aku berjanji tidak akan lagi berusaha mencintai seseorang. Takut kecewa. Takut terluka. Takut menangis sendirian lagi.
Aku cukup senang dengan suasana hatiku saat ini. Tidak perlu lagi merasa was-was mendapati kenyataan yang tidak eindah harapan. Sebab aku tidak akan bermimpi lagi untuk itu.
***
Aku menoleh melihat ke pintu kelasku, kudapati Bagas bersandar di sana yang kuyakini dia sedang menatapku. Bagas tersenyum dan kubalas dengan senyum. Aku tidak mau dianggap sombong. Rupanya senyumanku membuatnya merasa tidak perlu sungkan, sehingga dia mulai menghampiriku.
Masih bisa kulihat bekas keringat yang menempel di tubuhnya. Pastinya baru mengganti baju olahraga dengan seragam.
“Baca apaan?” tanyanya.
“Buku sejarah mitologi Yunani. Capek?” ganti aku bertanya.
“Sedikit,” katanya
“Aku mau mengembalikan buku ini ke perpustakaan. Aku tinggal dulu ya!”
Kutinggalkan dia.
Sebenarnya aku belum selesai membacanya. Aku cuma pura-pura, untuk menghindarinya. Ketakutan akan datangnya cinta menderaku. Aku tahu, jika aku berdekatan dengannya, rasa cinta akan muncul. Dan aku tidak mau kecewa itu datang lagi.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan menutup pintu hatiku sampai saatnya tiba nanti. Saat takdir benar-benar mempertemukan pasangan hidupku. Terlalu jauh ya pikiranku?
Terserah akan ada komentar apa, yang pasti saat ini itulah pemikiranku tentang cinta. Cinta adalah awal dari kesedihan.
***
Pertandingan final basket antar kelas, satu dari dua tim itu adalah kelasku. Vivi sudah menggandeng tanganku terus sampai di lapangan basket, dan tetap memegangnya seakan takut pergi.
“Kamu harus ikut mendukung kelas kita,” kata Vivi tegas.
Aku tersenyum dan mengangguk-angguk seperti anak kecil.
“Bagas pasti akan tambah semangat melihat kamu menontonnya, An”
“Aku pergi nih, kalau kamu bicara soal itu,” ancamku.
“Enggak lagi deh!”
Pertandingan dimulaidan aku bisa melihat Bagas tersenyum padaku.
Sebisa mungkin kunikmati pertandingan ini. Ikut bertepuk tangan, memberi semangat.
Kelas kami menjadi juara membuat kami bersorak-sorak kegirangan. Aku langsung mulai melangkah untuk meninggalkan lapangan.
“Anna!” Bagas mengejar langkahku.
Tubuhnya dipenuhi peluh dan dia tersenyum begitu kami berhadapan.
“Kutunggu di Banaran pulang sekolah nanti,” sebutnya pada cafe yang biasanya menjadi tongkrongan anak-anak sepulang sekolah.
Begitu saja, lalu dia pergi dari hadapanku, setengah berlari menghampiri teman-temannya yang ikut pertandingan tadi.
Kupandangi punggungnya dan balik kacamataku. Perasaanku datar. Syukurlah! Aku tidak mau ada yang lain di hatiku.
Mulanya aku ragu untuk memenuhi ajakannya. Tapi saat sudah kupijakkan kaki di Banaran, aku jadi lebih mantap untuk bertekat menemuinya.
Ada hal harus kita tahu. Aku telah mengetahui bagaimana rasanya terhempas dari mimpi, maka aku tidak ingin melukai hati orang lain. Paling tidak dengan pergi menemuinya bisa membuatnya lega.
Aku duduk di hadapannya.
“Mau pesan apa?” tanyanya.
“Apa saja,” jawabku asal.
“Jus jeruk saja ya? Kamu suka kan?” Dia menyebut minuman kesukaanku. Membuat aku sadar dia telah memperhatikanku.
Dia mulai bicara soal pelajaran, guru-guru, dan apa saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Kutanggapi dengan sikap biasa, sama kalau sedan ngobrol dengan teman-teman. Hingga akhirnya di mengutarakan perasaannya.
“Aku suka kamu, Anna.”
“Jangan lanjutkan perasaanmu itu,” kataku menanggapinya.
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kamu kecewa,” kataku singkat.
“Aku tidak akan kecewa. Aku menyukaimu dan saat ini aku merasakan indahnya cinta.”
“Cinta itu kesedihan. Jangan memulainya kalau kamu tidak ingin terluka. Bunuhlah cinta itu secepat mungkin, sebelum terlalu besar.”
“Tapi aku sudah menyukaimu sejak dulu dan cintaku telah tumbuh.”
“Buang sekarang sebelum lebih besar.”
“Aku tidak akan membuangnya begitu saja. Sekalipun misalnya cinta ini tidak terjalin, aku akan tetap menyimpannya. Kukenang perasaan itu, perasaan indah yang bisa membuatku bahagia.” Jelasnya.
Kuangkat mukaku, menatapnya.
“Kita berbeda dalam memandang cinta, itu artinya kita tidak akan cocok,”kataku dengan pasti.
“Bukankah perbedaan telah berhasil membuat dunia ini jadi lebih berwarna?”
“Terserah kamu saja. Asalkan jangan pernah menyesal memendam perasaan itu sendirian.”
“Aku akan menunggumu sampai kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan, Ann.”
Aneh. Mengapa aku bisa tertawa dengannya. Mendengar kata-katanya membuat suasana lain di hatiku.
“Aku tidak akan mencoba menyukaimu, Bagas.”
“Karena kamu takut? Takut kalau sudah melupakan cintaku ini, ketika kamu telah menyukaiku. Aku akan menjaga cinta ini, Anna. Sampai nanti kamu telah memiliki orang lain baru kusimpan dan kututup rapat cinta ini di hati.”
Entah kenapa, aku jadi menatapnya dan mencari kesungguhan di matanya.
“Aku mau pulang,”kataku yang pasti mengejutkannya.
Kupikir dia akan menahanku, tapi aku salah. Bagas tersenyum lalu berdiri.
“Oke! Aku antar,” katanya. Sekarang gantian aku yang terkejut oleh sikapnya.
Saat dia berjalan di sampingku, aku bisa merasakan degup jantungku. Aku jadi bisa merasakan bahwa aku sudah mulai menyukainya.
“Kamu sudah menyukaiku bukan? Tanyanya dengan senyum.
Lalu aku membalasnya dengan senyum.
Apakah ini awal dari perjalanan cintaku? Haruskah kuakui bahwa aku mulai dilanda cinta? Dan haruskah kuakui, cinta membuatku merasa bahagia? Cinta itu indah.
Kisah Seekor Kupu-kupu
Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil
muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia
berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian
kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha
semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut
memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya
karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan
melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang
seiring dengan berjalannya waktu. Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di
sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah
bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah
bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu
untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari
tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan
siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin
justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang
dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan.
Kita mungkin tidak akan pernah dapat “Terbang” Sesungguhnya Tuhan itu Maha
Pengasih dan Maha Penyayang.
Kita memohon Kekuatan…dan Tuhan memberi kita
kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.
Kita memohon kebijakan…dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran…dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk
dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
Kita memohon Keteguhan Hati…dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk
diatasi.
Kita memohon Cinta…dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk
diselamatkan dan dicintai.
Kita memohon Kemurahan Kebaikan Hati…dan Tuhan memberi kita
kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah cara Tuhan membimbing Kita…
Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya
tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan?.
memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal,
bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik
untuk kita.
SMS…..
Sampaikanlah pesan ini kepada 9 orang teman yang kamu anggap goblok : Tenanglah, saya juga barusan menerima pesan ini.
Klo ada yang bilang lu jelek, sabar aja. Klo ada yang bilang lu bego, Cuekin aja. Klo ada yang bilang lu dungu, Cool aja. Tapi klo ada yang bilang lu cakep, Tampar aja, coz itu FITNAH!!
Para Dokter telah meneliti lebih dari 10 tahun dan akhirnya mereka temuka sensasi bahwa orang2 lesbi n homo slalu baca sms dengan jempol. MAAF ANDA SUDAH TELAT MENGGANTI JARI.
Aku minta Tuhan sebuah batu, Dia memberiki Permata. Aku minta pohon, Dia member hutan. Aku minta monyet. Oh God…!!! Dia member nomormu.
25T :
Tadi Tante Tuti Tari Tarik Totong Tukang Tahu Terus Tukang Tahu Tekan Tekan Te**k Tante Tuti Teriak Teriak Terus Terus Terus…..
Tidak Ada Judul…..
Disebuah Perguruan Tinggi Swasta seorang professor berceramah mengenai pendidikan seks kepada para mahasiswanya suatu ketika dia bertanya kepada mehasiswanya tentang posisi seksual yang kalian ketahui.
Seorang mahasiswa menjawab, “dua belas”.
Tiba-tiba seorang mahasiswa dibelakang nyeletuk, ada seratus!
Professor menunjuk seorang lelaki gemuk “menurut kamu ada berapa”?
Mahasiswa gemuk menjawab “empat”
Mahasiswa belakang nyeletuk lagi sekarang ada “seratus satu”.
Professor menunjuk seorang mahasiswi yang tampak malu
“menurutmu ada berapa” dengan tersipu malu dia menjawab “satu pak”
Posisi apa Tanya professor lagi dengan muka merah si mahasiswi menjawab “lelaki di atas perempuan di bawah”
Mahasiswa di belakang nyeletuk lagi “sekarang seratus satu”

