Posts Tagged ‘tidak akan’

You are the Champion

“ YOU ARE THE CHAMPION – KAMU ADALAH SANG JUARA”

Ungkapan ini tidak hanya diucapkan saat kamu memenangi suatu perlombaan. Ungkapan ini pada dasarnya telah melekat pada diri / hati kamu sejak pertama kali kamu menghirup udara di dunia ini. Kamu semua terlahir sebagai sang juara. Apakah kamu menyadari predikat yang telah diberikan Allah kepada mu?

Apabila kamu telah sadar akan predikat yang disandang sejak lahir, tidak akan pernah terlontar dari mulut kamu kata-kata MENYERAH, MENGELUH DAN PUTUS ASA.

Mengapa kita diberikan predikat sebagai Sang Juara ????

Kembali kita harus membuka sejarah yang panjang tentang asal usul diri kita.
Kedua orang tua kita saat melakukan buhungan, tidak hanya dalam sekali saja lalu terbentuklah sebuah janin. Hubungan tersebut dilakukan berkali kali, dan setiap buhungan berjuta-juta sel /sperma dari sang ayah berlomba-lomba untuk bergabung dan menyatu dengan sel telur dari sang Bunda.

Berjuta-juta……….dan semua itu adalah saudara-saudara kita semua.

Tapi berapakah yang menang? Siapakah mereka ?

Setelah berhasil mengalahkan saudara-saudara kita sendiri, akhirnya hanya satu yang berhasil menyatu dan membentuk sebuah embrio (cikal bakal manusia).
Tidak mudah dan cepat embrio tersebut bisa menghirup udara dunia. Dia juga harus melewati tantangan yang berat dan juga harus melawati waktu yang sangat panjang (sembilan bulan sepuluh hari).
Dalam proses menuju kemenangan sebagai manusia pun tidaklah mudah. Banyak rintangan dan juga perubahan-perubahan bentuk yang harus kita jalani.
Pada saat perhitungan waktu yang telah ditentukan, akhirnya kita keluar sebagai pemenang,

sebagai sang JUARA.

Kita bisa keluar dari perut sang Bunda dan kita bisa bebas menghirup segarnya udara dunia. Saat kita lahirpun kita sudah diberikan kebebasan, yaitu untuk berteriak (karena kita masih belum bisa ngomong, jadi yang keluar adalah sebuah tangis) sekencang-kencangnya untuk melampiaskan kemenangan. Sebagai sang Juara, kita disambut oleh tepuk tangan dan juga tawa riang oleh orang tua kita dan juga saudara-saudara kita yang telah terlebih dahulu menjadi juara. Betapa besar sambutan atas kemenangan kita. sebagai sang jura kita selalu didoakan, dijaga dan dilayani sebaik mungkin.
I
tulah sejarah panjang tentang lahirnya SANG JUARA.

Nah, apakah sekarang kamu telah sadar akan predikat yang ada pada diri kamu?
Untuk itu jangan kamu sia-siakan kesempatan hidup ini. Jalanilah hidupmu sebagai sang juara.

Jangan pernah menyerah………. !!
Jangan pernah putus asa……….. !!
Jangan pernah mengeluh…………. !!

Kita punya kekuatan untuk melawan dan keluar darisemua masalah.

Ingat akan berjuta-juta saudara yang telah kamu kalahkan…………
Ingat sambutan kemenangan yang telah orang tua berikan…………
Kamu adalah mutiara yang tak ternilai harganya.
Tidak pernah terlahir seorang juara yang tidak mempunyai nilai.
Jangan sia-siakan kematian saudaramu dan jangan pula kamu sia-siakan kemenangan kamu!!

“…….YOU ARE THE CHAMPION…….”

Semoga tuliskan ini bermafaat dan bisa menambah semangat hidup, semangat belajar dan semangat beribadah.
Semoga kemengan kamu merupakan titik awal kesuksesan masa yang akan datang. Amien….Amien….Amien…..

Provinsi DIY Terbentuk dari 2 Kerajaan penerus Dinasti Mataram ISLAM

Provinsi DI Yogyakarta terbentuk dari 2 Kerajaan penerus Dinasti Mataram ISLAM, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Paku Alaman. 2 Negeri yang diakui kekuasaan oleh Penjajah Belnda.

Bergabungnya Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman ke dalam NKRI di maklumatkan oleh Sri Sultan HB IX dan KGPAA Paku Alam VIII pada tanggal 5 September 1945. pada saat itu menurut cerita di pelajaran Sejarah sewaktu saya duduk dibangku sekolah, di ceritakan bahwa apabila waktu itu Sultan HB IX tidak bergabung dengan NKRI maka akan diberikan kekuasaan atas Pulau Jawa kepadanya. Tetapi Sri Sultan HB IX tdk mau mengikuti kata Belanda karena apabila beliau mngikutinya maka tidak akan pernah ada Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti saat ini.

Yogyakarta, adalah Ibu Kandung Negara kita, NKRI. Tanpa Jogja NKRI tak kan pernah ada. Tanpa Jogja, penjajahan belum tentu berakhir sampai saat ini.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, demikian kata orang-orang bijak. Tetapi apa yang terjadi dengan Indonesia???Apakah rakyat Jogja tidak boleh merasakan atau menerima predikat sebagai daerah istimewa???

Sudah sepantasnya Yogyakarta disebut dan diperlakukan sebagai daerah Istimewa. Karena peran besar Yogyakarta di masa lalu sangatlah besar. Mulai dari Kongres Boedi Utomo I yang diaadakan di Jogja, kemudian peristiwa pemindahan kekuasaan Ibu Kota RI di masa perjuangan, SO 1 maret yang jelas-jelas membuktikan kepada dunia bahwa RI masih ada semua itu hanyalah bagian kecil dari pengorbanan Yogyakarta untuk Republik.

Keistimewaan yang dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta adalah penetapan jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY pada diri Sultan Hamengku Buwono dan KGPAA Paku Alam yang bertahta. sebenarnya menurut rakyat kecil, inti dari keistimewaan itu sendiri adalah seperti itu. Bukan dengan Pemilihan Gubernur yang dirasa bisa menimbulkan perpecahan ditubuh masyarakat DIY sendiri.

Perlu diketahui bahwa demokrasi TIDAK HARUS DENGAN PEMILU, tetapi demokrasi bisa dilakukan dengan cara lain yang mana cara tersebut bisa mengakomodir semua kepentingan. kalau kita menengok di saat kita masih duduk dibangku SD guru kita akan bercerita bahwa ciri khas masyarakat Indonesia adalah MUSYAWARAH dan MUFAKAT. Tetapi bila kita dengar pernyataan Presiden di media beberapa saat lalu menyatakan bahwa Rangkap jabatan hanya ada di dalam KETHOPRAK. Hal lain yang dikemukakan oleh Pejabat publik lainnya adalah bahwa Yogyakarta bukan lagi monarkhi absulut, tetapi harus menjadi monarkhi konstitusi sehingga pemilihan Kepala daerah dilaksanakan dengan Pemilihan Langsung.

Seandainya dalam UUK DIY nanti ditetapkan bahwa jabatan Gubernur dan wakil Gubernur berdasarkan penetapan Sultan dan Paku Alam yang bertahta maka masih adakah kesempatan Sultan untuk maju ke tingkat Nasional???Pertanyaan ini yang akan kita bahas pada pembahasan selanjutnya…..

Renungan Untuk Yang Mencari Pasangan Hidup

Mungkin ada yang menganggap terlalu naif dan hanya ada di dalam cerita
aja. Apapun itu, kadang memang harus pinggirkan hal duniawi dan
kembali ke dasar kita.
____________ _________ _________ _________ _
Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengarungi bahtera rumah tangga..

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama.. Kenapa kamu memilih dia sebagai
suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ).

Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.

Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.

Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama
seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat
berhati-hati dalam memilih suami..

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.

Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya
menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama
proses pernikahan.

Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.. Asli..

Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali
waktu itu (sok sibuk sih aslinya).

Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.

Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.

Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia
juga ingin bercerita banyak pada saya.

Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.

“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”

“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.

Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.

Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.

“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya.

Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……untuk menjadi istri
saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.

Saat ini saya punya pekerjaan.

Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan
istri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan
ngontrak selamannya.

Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya.. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja..

Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena
saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang
baik. Kenapa saya memilih anda ?

Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda.

Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.

Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.

Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.

Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.

Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D .

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia..”

“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.

Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”

“Maksudnya?”

“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel.

“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.

Sunyi.. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

“Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.

“Gik…”

“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya.. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.

Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa
ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.

Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi
sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan
mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.

Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.

Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.

Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan.

Kita hanya bisa
memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah
dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan
kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta ?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.

Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo),

kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.

forward from: Desi Apriani

yogie al-fakir

Kisah Seekor Kupu-kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil
muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia
berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian
kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha
semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut
memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh
gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya
karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan
melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang
seiring dengan berjalannya waktu. Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di
sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah
bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah
bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu
untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari
tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan
siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita.
Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin
justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang
dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yang kita mintakan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat “Terbang” Sesungguhnya Tuhan itu Maha
Pengasih dan Maha Penyayang.

Kita memohon Kekuatan…dan Tuhan memberi kita
kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.

Kita memohon kebijakan…dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran…dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk
dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati…dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk
diatasi.

Kita memohon Cinta…dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk
diselamatkan dan dicintai.

Kita memohon Kemurahan Kebaikan Hati…dan Tuhan memberi kita
kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita…
Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya
tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan?.

Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan
memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal,
bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik
untuk kita.